<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dan&#039;s  Weblog</title>
	<atom:link href="http://sridana.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sridana.wordpress.com</link>
	<description>-- Senangnya bisa membantu --</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 Feb 2011 08:23:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sridana.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/66fab3ae5be578f6bc414ea734d37c6a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Dan&#039;s  Weblog</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sridana.wordpress.com/osd.xml" title="Dan&#039;s  Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sridana.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Tips Memberi Obat Pada Balita</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2009/12/05/tips-memberi-obat-pada-balita/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2009/12/05/tips-memberi-obat-pada-balita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Dec 2009 12:39:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=310</guid>
		<description><![CDATA[Ketika si buah hati Anda sedang sakit tentu kita akan sangat sedih dan berusaha terbaik agar si buah hati cepat sembuh. Ketika kita akan memberi obat pada balita, tentu kita akan merasakan betapa repotnya. Karena bayi tidak bisa meminum obat dengan langsung seperti halnya pada orang dewasa. Sering kali dia akan melakukan aksi-aksi penolakan terhadap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=310&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/dsc0214.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-314" title="_DSC0214" src="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/dsc0214.jpg?w=150&#038;h=99" alt="" width="150" height="99" /></a>Ketika si buah hati Anda sedang sakit tentu kita akan sangat sedih dan berusaha terbaik agar si buah hati cepat sembuh. Ketika kita akan memberi obat pada balita, tentu kita akan merasakan betapa repotnya. Karena bayi tidak bisa meminum obat dengan langsung seperti halnya pada orang dewasa.  Sering kali dia akan melakukan aksi-aksi penolakan terhadap obat itu seperti menutup mulut, berontak, atau bahkan memuntahkan kembali obat yang sudah masuk ke mulutnya. Adakalanya obatnya berupa sirup yang terasa manis dan terkadang berasa buah. Nah pasti orang tua harus ekstra sabar didalam memberi obat pada balita.</p>
<p>Tips memberi obat pada balita yang ada dibawah ini mungkin bisa dicoba:</p>
<p>1. Memberikan obat pada bayi:</p>
<p>• Gendonglah bayi ketika diberi obat. Posisi menggendongnya, kepala berada lebih tinggi ketimbang badan, agar si bayi tidak tersedak yang bisa berakibat obat masuk ke dalam paru-paru.</p>
<p><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/05255bayi01.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-315" title="05255bayi01" src="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/05255bayi01.jpg?w=136&#038;h=150" alt="" width="136" height="150" /></a>• Karena bayi biasanya susah diam, mintalah bantuan orang dewasa atau anak yang lebih besar untuk menenangkannya. Kalau tidak ada orang lain, Anda bisa membungkus tangan dan tubuh bayi dengan selimut agar tangan si bayi tak mengganggu Anda.</p>
<p>• Jika bayi sering memuntahkan kembali obat yang diminumnya, mintalah bantuan seseorang untuk membuka mulutnya dengan lembut. Lalu, dengan lembut pula masukkan obat ke dalam mulut bayi.</p>
<p>• Pemberian obat, yang biasanya berbentuk cair, itu bisa menggunakan sendok atau pipet:</p>
<ul>
<li>Bila menggunakan sendok, letakkan sendok yang telah disterilkan dan diisi obat pada bibir bagian bawah. Angkat sedikit sendoknya agar obat mengalir ke dalam mulutnya.</li>
<li>Bila menggunakan pipet, isilah pipet dengan sejumlah obat yang sesuai dengan petunjuk dokter. Letakkan pipet obat di sudut mulut bayi dan keluarkan obat perlahan-lahan.</li>
</ul>
<p>• Pemberian obat tetes untuk hidung, mata, dan telinga pada bayi juga perlu kiat khusus:</p>
<ul>
<li>Obat tetes hidung:  Tengadahkan sedikit kepala bayi. Perlahan teteskan obat ke setiap lubang hidung.  Hitung jumlah tetesan yang masuk ke hidung. Dua atau tiga tetes biasanya sudah cukup.</li>
<li>Obat tetes mata: Miringkan sedikit kepala bayi, hingga mata terinfeksi berada di bawah. Dengan cara ini tetesan obat tak mengalir masuk ke mata sehat.  Perlahan tariklah kelopak mata bawah agar obat dapat mudah mengalir.</li>
<li>Obat tetes telinga: Baringkan bayi pada salah satu sisi dengan lubang telinga terinfeksi berada di atas. Teteskan obat ke dalam lubang telinga yang sakit. Buat bayi tetap diam agar obat benar-benar masuk ke lubang telinga bagian dalam.  Sebelum obat tetes tersebut diberikan, ada baiknya hal-hal berikut ini diperhatikan:</li>
</ul>
<p>a.	Rendam obat tetes dengan posisi tegak dalam tabung berisi air suam-suam kuku selama beberapa menit, agar ketika diteteskan dan masuk ke lubang hidung atau telinga, anak tidak terlalu kaget.</p>
<p>b.	Jangan sentuhkan obat tetes ke hidung, telinga, atau mata agar bakteri tidak berpindah ke dalam botol obat.</p>
<p>c.	Perhatikan batas waktu pemakaian obat itu. Obat kadaluwarsa akan memperburuk peradangan atau kondisi bayi yang diobati.</p>
<p>2. Memberikan obat pada anak-anak:</p>
<p>- Mintalah anak menutup lubang hidung saat meminum obat agar rasa obat tak terlalu keras.</p>
<p>- Campurlah obat, terutama yang berupa tablet, dengan sirup atau madu agar tak terasa pahit.</p>
<p>- Jangan larutkan obat dengan air di gelas karena ada kemungkinan obat mengendap dan tak terminum si anak.</p>
<p>- Mintalah anak untuk menggosok gigi setelah meminum obat yang manis agar tidak menempel di gigi.</p>
<p>Sumber : ISFI ONLINE</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/310/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/310/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=310&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2009/12/05/tips-memberi-obat-pada-balita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/dsc0214.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">_DSC0214</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2009/12/05255bayi01.jpg?w=136" medium="image">
			<media:title type="html">05255bayi01</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obat Bius : lain jenis, lain pula kegunaannya</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2009/10/29/obat-bius-lain-jenis-lain-pula-kegunaannya/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2009/10/29/obat-bius-lain-jenis-lain-pula-kegunaannya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 16:11:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Arikel Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[anestesi]]></category>
		<category><![CDATA[bedah]]></category>
		<category><![CDATA[obat bius]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=295</guid>
		<description><![CDATA[Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, perawatan kecantikan seperti sulam
bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi geraham terakhir atau gigi berlubang, mengangkat mata ikan, hingga merawat luka terbuka yang disertai tindakan penjahitan.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=295&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-300" title="anestesia" src="http://sridana.files.wordpress.com/2009/10/anestesia1.jpg?w=150&#038;h=145" alt="anestesia" width="150" height="145" />Obat bius yang digunakan dalam praktik medis memiliki banyak jenis dan sediaan. Ada yang membuat bagian tubuh mati rasa hingga membuat tak sadar. Mengapa obat bius dibuat beraneka ragam ? Tak hanya berfungsi untuk membuat orang tak sadar saat dioperasi, pada tindakan medis lain pun obat bius amat diperlukan.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya saja untuk mencabut gigi, dimana obat bius digunakan untuk mematirasa area yang akan dilakukan pencabutan. Obat bius adalah sebuah tindakan yang diambil dokter untuk meredakan rasa nyeri. Baik yang bersifat lokal atau hanya mematikan rasa pada area tertentu, hingga yang menidurkan atau menghilangkan kesadaran seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena kebutuhan untuk meredakan rasa nyeri ini sangat subyektif pada masing-masing orang, maka obat bius pun diciptakan dengan berbagai cara kerja dan penggunaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan Sifat Obat bius memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan cara kerja. Namun, secara awam obat bius atau istilah medisnya anestesi ini dibedakan menjadi tiga golongan yaitu anestesi lokal, regional, dan umum.<img class="alignright size-thumbnail wp-image-301" title="anesthesia-1a" src="http://sridana.files.wordpress.com/2009/10/anesthesia-1a1.jpg?w=100&#038;h=150" alt="anesthesia-1a" width="100" height="150" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Anestesi Lokal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal. Misalnya, perawatan kecantikan seperti sulam<br />
bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi geraham terakhir atau gigi berlubang, mengangkat mata ikan, hingga merawat luka terbuka yang disertai tindakan penjahitan.</p>
<p style="text-align:justify;">Anestesi lokal merupakan tindakan memanfaatkan obat bius yang cara kerjanya hanya menghilangkan rasa di area tertentu yang akan dilakukan tindakan. Caranya, menginjeksikan obat-obatan anestesi tertentu pada area yang akan dilakukan sayatan atau jahitan. Obat-obatan yang diinjeksikan ini lalu bekerja memblokade saraf-saraf tepi yang ada di area sekitar injeksi sehingga tidak mengirimkan impuls nyeri ke otak.</p>
<p style="text-align:justify;">Anestesi lokal ini bersifat ringan dan biasanya digunakan untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena efek mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan selama kurun waktu sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih dari itu, maka akan diperlukan injeksi tambahan untuk melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri.</p>
<p><span id="more-295"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Anestesi Regional</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anestesi jenis ini biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya perlu dalam kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar, bila pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi pada lengan dan tungkai.</p>
<p style="text-align:justify;">Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada bagian utama pengantar register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di dalam tulang belakang. Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf di area itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sensasi nyeri yang ditimbulkan organ-organ melalui sistem saraf tadi lalu terhambat dan tak dapat diregister sebagai sensasi nyeri di otak. Dan sifat anestesi atau efek mati rasa akan lebih luas dan lama dibanding anestesi lokal.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada kasus bedah, bisa membuat mati rasa dari perut ke bawah. Namun, oleh karena tidak mempengaruhi hingga ke susunan saraf pusat atau otak, maka pasien yang sudah di anestesi lokal masih bisa sadar dan mampu berkomunikasi, walau tak merasakan nyeri di daerah yang sedang dioperasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Anestesi Umum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anestesi umum atau bius total adalah anestesi yang biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang. Misalnya pada kasus bedah jantung, pengangkatan batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Caranya, memasukkan obat-obatan bius baik secara inhalasi (pernafasan) maupun intravena (pembuluh darah vena) beberapa menit sebelum pasien dioperasi. Obat-obatan ini akan bekerja menghambat hantaran listrik ke otak sehingga sel otak tak bisa menyimpan memori atau mengenali impuls nyeri di area tubuh manapun, dan membuat pasien dalam kondisi tak sadar (loss of consciousness).</p>
<p style="text-align:justify;">Cara kerjanya, selain menghilangkan rasa nyeri, menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga merelaksasi seluruh otot. Maka, selama penggunaan anestesi juga diperlukan alat bantu nafas, selain deteksi jantung untuk meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya selama operasi dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Sesuai Cara Penggunaan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kebutuhan dan cara kerja anestesi beranekaragam. Anestesi juga memiliki cara penggunaan yang berbeda sesuai kebutuhannya. Tak hanya cara disuntikkan saja, tetapi juga dihirup melalui alat bantu nafas. Beberapa cara penggunaan</p>
<p style="text-align:justify;">anestesi ini di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>A. Melalui Pernafasan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa obat anestesi berupa gas seperti isoflurane dan nitrous oxide, dapat dimasukkan melalui pernafasan atau secara inhalasi. Gas-gas ini mempengaruhi kerja susunan saraf pusat di otak, otot jantung, serta paru-paru sehingga bersama-sama menciptakan kondisi tak sadar pada pasien.</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan bius jenis inhalasi ini lebih ditujukan untuk pasien operasi besar yang belum diketahui berapa lama tindakan operasi diperlukan. Sehingga, perlu dipastikan pasien tetap dalam kondisi tak sadar selama operasi dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>B. Iinjeksi Intravena</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sedangkan obat ketamine, thiopetal, opioids (fentanyl, sufentanil) dan propofol adalah obat-obatan yang biasanya dimasukkan ke aliran vena. Obat-obatan ini menimbulkan efek menghilangkan nyeri, mematikan rasa secara menyeluruh, dan membuat depresi pernafasan sehingga membuat pasien tak sadarkan diri. Masa bekerjanya cukup lama dan akan ditambahkan bila ternyata lamanya operasi perlu ditambah.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>C. Injeksi Pada Spinal/ Epidural</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Obat-obatan jenis iodocaine dan bupivacaine yang sifatnya lokal dapat diinjeksikan dalam ruang spinal (rongga tulang belakang) maupun epidural untuk menghasilkan efek mati rasa pada paruh tubuh tertentu. Misalnya, dari pusat ke</p>
<p style="text-align:justify;">bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">Beda dari injeksi epidural dan spinal adalah pada teknik injeksi. Pada epidural, injeksi dapat dipertahankan dengan meninggalkan selang kecil untuk menambah obat anestesi jika diperlukan perpanjangan waktu tindakan. Sedang pada spinal membutuhkan jarum lebih panjang dan hanya bisa dilakukan dalam sekali injeksi untuk sekitar 2 jam ke depan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>. Injeksi Lokal</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Iodocaine dan bupivacaine juga dapat di injeksi di bawah lapisan kulit untuk menghasilkan efek mati rasa di area lokal. Dengan cara kerja memblokade impuls saraf dan sensasi nyeri dari saraf tepi sehingga kulit akan terasa kebas dan mati rasa.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Risiko &amp; Efek Samping Obat Bius</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menggunakan obat bius memang sudah merupakan kebutuhan untuk tindakan medis tertentu. Sebagaimana penggunaan obat-obatan, anestesi juga memiliki risiko tersendiri. Bius lokal, efek samping biasanya merupakan reaksi alergi. Namun, pada anestesi regional dan umum, Roys menggolongkan efek samping berdasarkan tingkat kejadian.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Cukup Sering</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan angka kejadian 1 : 100 pasien, prosedur anestesi dapat menyebabkan risiko efek samping berupa mual,</p>
<p style="text-align:justify;">muntah, batuk kering, nyeri tenggorokan, pusing, penglihatan kabur, nyeri kepala, pusing, penglihatan kabur, nyeri</p>
<p style="text-align:justify;">kepala, nyeri punggung, gatal-gatal, lebam di area injeksi, dan hilang ingatan sementara.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Jarang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada angka kejadian 1 : 1000 pasien, anestesi dapat berisiko menyebabkan infeksi dada, beser atau sulit kencing, nyeri</p>
<p style="text-align:justify;">otot, cedera pada gigi, bibir, dan lidah, perubahan mood atau perilaku, dan mimpi buruk.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Sangat Jarang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Risiko yang sangat jarang terjadi dengan angka kejadian 1 : 10.000/ 200.000 pasien, diantaranya dapat menyebabkan cedera mata, alergi obat yang serius, cedera saraf, kelumpuhan, dan kematian.</p>
<p style="text-align:justify;">Efek samping ini bisa permanen jika sampai menyebabkan komplikasi seperti cedera saraf yang menyebabkan kelumpuhan. Atau, pada kasus infeksi dada disertai penyakit jantung, memperbesar risiko komplikasi penyakit jantung</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Resistensi Bius</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika dilakukan anestesi, terkadang dapat terjadi seseorang tak mendapatkan efek bius seperti yang diharapkan. Atau, yang kerap disebut resisten terhadap obat bius. Beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang resisten terhadap obat bius di antaranya:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Pecandu alkohol</p>
<p style="text-align:justify;">2. Pengguna obat psikotropika seperti morfin, ekstasi dan lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">3. Pengguna obat anelgesik</p>
<p style="text-align:justify;">Pada orang-orang tadi telah terjadi peningkatan ambang rangsang terhadap obat bius yang disebabkan efek bahan yang dikonsumsi dan masih beredar dalam tubuhnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Agar Obat Bius Optimal &amp; Aman</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menghindari terjadinya efek samping dan resistensi terhadap obat bius, sebaiknya pasien benar-benar memastikan kondisi tubuhnya cukup baik untuk menerima anestesi.</p>
<p style="text-align:justify;">1. Menghentikan penggunaan obat anelgetik, paling tidak 1-2 hari sebelum dilakukan prosedur anestesi.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Menghentikan konsumsi obat-obatan yang berefek pada saraf pusat seperti morfin, barbiturat, amfetamin dan lainnya,</p>
<p style="text-align:justify;">paling tidak 1-3 hari sebelum anestesi dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Berhenti mengonsumsi alkohol paling tidak 2 minggu sebelum penggunaan anestesi,</p>
<p style="text-align:justify;">4. Berhenti merokok setidaknya 2 minggu sebelum anestesi dilakukan. (nova/lia)</p>
<p style="text-align:justify;"><cite></cite></p>
<p><span style="background-color:#ffc1e0;"> Sumber:(indofamilyhealth.com dalam ISFI ON LINE)</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/295/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/295/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=295&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2009/10/29/obat-bius-lain-jenis-lain-pula-kegunaannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2009/10/anestesia1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">anestesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2009/10/anesthesia-1a1.jpg?w=100" medium="image">
			<media:title type="html">anesthesia-1a</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SOAL-SOAL LATIHAN CPNS</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/11/13/soal-soal-latihan-cpns/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/11/13/soal-soal-latihan-cpns/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 05:41:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Soal CPNS]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Bagi temen-temen yang butuh soal-soal latihan CPNS silahkan download di sini (gratiss) : 1. UUD 1945 dan amandemen 2. Kebijakan pemerintah 3. Test-bakat-skolastik1 4. Bahasa Indonesia 5. Bahasa Inggris 6. Falsafah ideologi 7. Sejarah nasional Indonesia 8. Tata Negara<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=195&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;">Bagi temen-temen yang butuh soal-soal latihan CPNS silahkan download di sini (gratiss) :</p>
<p style="text-align:center;">1. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/06-uud-1945-amandemen.pdf">UUD 1945 dan amandemen</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/06-uud-1945-amandemen.pdf"></a>2. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/07kebijakanpemerintah.pdf">Kebijakan pemerintah</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/07kebijakanpemerintah.pdf"></a>3. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/10-test-bakat-skolastik1.pdf">Test-bakat-skolastik1</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/10-test-bakat-skolastik1.pdf"></a>4. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnsbahasaindonesia.pdf">Bahasa Indonesia</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnsbahasaindonesia.pdf"></a>5. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnsbahasainggris.pdf">Bahasa Inggris</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnsbahasainggris.pdf"></a>6. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnsfalsafahideologi.pdf">Falsafah ideologi</a></p>
<p style="text-align:center;">7. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnssejarahnasionalindonesia.pdf">Sejarah nasional Indonesia</a></p>
<p style="text-align:center;">8. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/11/cpnstatanegara.pdf">Tata Negara</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/195/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/195/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=195&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/11/13/soal-soal-latihan-cpns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tugas Kuliah</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/10/23/tugas-kuliah/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/10/23/tugas-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 11:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tugas Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=155&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=155&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/10/23/tugas-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Materi Kuliah</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/materi-kuliah/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/materi-kuliah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 12:58:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[analgetika]]></category>
		<category><![CDATA[Antibiotika]]></category>
		<category><![CDATA[Download]]></category>
		<category><![CDATA[farmakologi]]></category>
		<category><![CDATA[obat sso]]></category>
		<category><![CDATA[uterotonika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Silahkan download materi kuliah di bawah ini 1. pengantar-farmakologi 2. uterotonika 3. antibiotika 4. penggunaan-obat-pada-kehamilan1 5. antibiotika2 6. obat-sso 7. analgetika 8.  bioregulator 9. hematinika 10.antijamur<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=137&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Silahkan download materi kuliah di bawah ini</strong></p>
<p style="text-align:center;">1. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/pengantar-farmakologi.pps">pengantar-farmakologi</a></p>
<p style="text-align:center;">2. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/uterotonika.pps">uterotonika</a></p>
<p style="text-align:center;">3. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/antibiotika.pps">antibiotika</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/antibiotika.pps"></a>4. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/penggunaan-obat-pada-kehamilan1.pps">penggunaan-obat-pada-kehamilan1</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/penggunaan-obat-pada-kehamilan.pps"></a>5. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/antibiotika2.pps">antibiotika2</a></p>
<p style="text-align:center;">6. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obat-sso.pps">obat-sso</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obat-sso.pps"></a>7. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/analgetika.pps">analgetika</a></p>
<p style="text-align:center;">8.  <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/bioregulator.pps">bioregulator</a></p>
<p style="text-align:center;">9. <a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/hematinika.pps">hematinika</a></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/hematinika.pps"></a>10.<a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/antijamur.ppt">antijamur</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=137&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/materi-kuliah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Medication Compliance</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/medication-compliance/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/medication-compliance/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 08:07:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Medication Compliance]]></category>
		<category><![CDATA[Obat]]></category>
		<category><![CDATA[resep]]></category>
		<category><![CDATA[resep obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Yang dimaksud dengan medication compliance adalah mengkonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan kepada Anda pada waktu dan dosis yang tepat. Pengobatan hanya akan efektif apabila Anda mematuhi aturan dalam penggunaan obat. Misalnya, apabila apoteker atau dokter Anda meresepkan antibiotic yang diminum 3 kali sehari tiap kapsul/tablet, maka pastikan Anda mengkonsumsi antibiotic tersebut tiap 8 jam satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=120&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-271" title="pills" src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/pills.jpg?w=179&#038;h=200" alt="pills" width="179" height="200" />Yang dimaksud dengan medication compliance adalah mengkonsumsi obat-obatan yang telah diresepkan kepada Anda pada waktu dan dosis yang tepat. Pengobatan hanya akan efektif apabila Anda mematuhi aturan dalam penggunaan obat.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya, apabila apoteker atau dokter Anda meresepkan antibiotic yang diminum 3 kali sehari tiap kapsul/tablet, maka pastikan Anda mengkonsumsi antibiotic tersebut tiap 8 jam satu kapsul/tablet. Apabila ada anjuran untuk menghabiskan obat tersebut, maka Anda harus mengkonsumsi obat tersebut sampai habis.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada beberapa tips yang dapat kami sarankan untuk membantu Anda mengkonsumsi obat tepat pada waktunya, seperti :</p>
<p><span id="more-120"></span></p>
<p style="text-align:justify;">1. Menyesuaikan waktu minum obat dengan rutinitas Anda sehari-hari, misalnya pada pagi hari saat sarapan, siang hari saat makan siang, malam hari saat makan malam atau sebelum tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Pasang alarm pada jam-jam yang sama untuk mengingatkan Anda minum obat tepat pada waktunya.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Gunakan pot-pot obat atau kantung-kantung obat dan isi dengan obat-obat yang harus diminum pada waktu yang sama, lalu beri label. Misalnya, apabila Anda mendapat resep obat seperti :</p>
<p style="text-align:justify;">• Obat A : 3 kali sehari satu tablet</p>
<p style="text-align:justify;">• Obat B : 2 kali sehari satu kapsul</p>
<p style="text-align:justify;">• Obat C : 3 kali sehari satu tablet</p>
<p style="text-align:justify;">Maka, masukkan ke dalam kantung obat:</p>
<p style="text-align:justify;">• Kantung 1 : 1 tablet A + 1 kapsul B + 1 tablet C, beri label PAGI</p>
<p style="text-align:justify;">• Kantung 2 : 1 tablet A dan 1 tablet B, beri label SIANG</p>
<p style="text-align:justify;">• Kantung 3 : 1 tablet A + 1 kapsul B + 1 tablet C, beri label MALAM</p>
<p style="text-align:justify;">Dan seterusnya sampai semua obat terbagi sesuai waktu penggunaannya. Lalu simpan kantung-kantung tersebut dalam wadah yang mudah Anda jangkau ataupun Anda ketahui dengan tepat, misalnya di meja sebelah tempat tidur Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Penting untuk menyimpan obat-obatan yang harus Anda konsumsi di tempat yang Anda ketahui secara pasti, supaya Anda tidak harus menghabiskan waktu mencari-cari saat datangnya waktu minum obat.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang terpenting adalah jangan pernah menghentikan penggunaan obat atas keinginan Anda sendiri karena Anda merasa baikan. Pada kebanyakan kasus, penghentian pengobatan atas keinginan sendiri hanya akan menyebabkan Anda menderita sakit yang lebih parah di kemudian hari. Tanyakan apoteker atau dokter Anda apabila Anda memiliki berbagai pertanyaan tentang obat yang harus Anda minum.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan jika Anda punya kesulitan mengingat waktu pengobatan atau Anda ketinggalan beberapa dosis, sebaiknya bicarakan dengan apoteker atau dokter Anda. Apoteker atau Dokter kemungkinan dapat membantu menyederhanakan regimen pengobatan (jumlah obat yang harus diminum) atau menyarankan metode lain untuk membantu Anda mengingat waktu pengobatan Anda. Terakhir, jangan pernah menyembunyikan ketidakpatuhan Anda dari Apoteker, dokter atau orang yang merawat Anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber  : ISFI Online</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=120&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/medication-compliance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/pills.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pills</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obat Bebas dan Obat Terbatas</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/obat-bebas-dan-obat-terbatas/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/obat-bebas-dan-obat-terbatas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Oct 2008 07:55:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obat Bebas dan Obat Terbatas]]></category>
		<category><![CDATA[Obat]]></category>
		<category><![CDATA[obat bebas]]></category>
		<category><![CDATA[obat tanpa resep]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang &#8211; Undang No. 23 tahun 1992). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. INFORMASI [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=116&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-285" title="obat+bebas" src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obatbebas.jpg?w=162&#038;h=166" alt="obat+bebas" width="162" height="166" /> Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Undang &#8211; Undang No. 23 tahun 1992). Pembangunan kesehatan sebagai salah satu upaya pembangunan nasional diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.</p>
<p style="text-align:justify;">INFORMASI UMUM OBAT</p>
<p style="text-align:justify;">Obat adalah bahan atau panduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi (Undang-Undang Kesehatan No. 23 tahun 1992).</p>
<p style="text-align:justify;">Penggolongan Obat</p>
<p style="text-align:justify;">Obat dapat dibagi menjadi 4 golongan yaitu :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Obat Bebas</p>
<p style="text-align:justify;">Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Parasetamol</p>
<p><span id="more-116"></span></p>
<p style="text-align:justify;">2. Obat Bebas Terbatas<br />
Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : CTM</p>
<p style="text-align:justify;">3. Obat Keras dan Psikotropika</p>
<p style="text-align:justify;">Obat keras adalah obat yang hanya dapat dibeli di apotek dengan resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket adalah huruf K dalam lingkaran merah dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Asam Mefenamat</p>
<p style="text-align:justify;">Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Contoh : Diazepam, Phenobarbital</p>
<p style="text-align:justify;">4. Obat Narkotika<br />
Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan. Contoh : Morfin, Petidin</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum menggunakan obat, termasuk obat bebas dan bebas terbatas harus diketahui sifat dan cara pemakaiannya agar penggunaannya tepat dan aman.  Informasi tersebut dapat diperbolehkan dari etiket atau brosur pada kemasan obat bebas dan bebas terbatas.</p>
<p style="text-align:justify;">Informasi Kemasan, Etiket dan Brosur</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum menggunakan obat, bacalah sifat dan cara pemakaiannya pada etiket, brosur atau kemasan obat agar penggunaannya tepat dan aman.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada setiap brosur atau kemasan obat selalu dicantumkan:</p>
<p style="text-align:justify;">•  Nama obat</p>
<p style="text-align:justify;">•  Komposisi</p>
<p style="text-align:justify;">•  Indikasi</p>
<p style="text-align:justify;">•  Informasi cara kerja obat</p>
<p style="text-align:justify;">•  Aturan pakai</p>
<p style="text-align:justify;">•  Peringatan (khusus untuk obat bebas terbatas)</p>
<p style="text-align:justify;">•  Perhatian</p>
<p style="text-align:justify;">•  Nama produsen</p>
<p style="text-align:justify;">•  Nomor batch/lot</p>
<p style="text-align:justify;">•  Nomor registrasi</p>
<p style="text-align:justify;">Nomor registrasi dicantumkan sebagai tanda ijin edar absah yang diberikan oleh pemerintah pada setiap kemasan obat.</p>
<p style="text-align:justify;">•  Tanggal kadaluarsa</p>
<p style="text-align:justify;">Tanda peringatan</p>
<p style="text-align:justify;">Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang</p>
<p style="text-align:justify;">5 (lima) centimeter, lebar 2 (dua) centimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut :</p>
<p style="text-align:justify;">Cara Pemilihan Obat</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menetapkan jenis obat yang dibutuhkan perlu diperhatikan :</p>
<p style="text-align:justify;">a) Gejala atau keluhan penyakit</p>
<p style="text-align:justify;">b) Kondisi khusus misalnya hamil, menyusui, bayi, lanjut usia, diabetes mellitus dan lain-lain.<img class="alignright size-full wp-image-287" title="obat" src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obat.jpg?w=298&#038;h=225" alt="obat" width="298" height="225" /></p>
<p style="text-align:justify;">c) Pengalaman alergi atau reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">d) Nama obat, zat berkhasiat, kegunaan, cara pemakaian, efek samping dan interaksi obat yang dapat dibaca pada etiket atau brosur obat.</p>
<p style="text-align:justify;">e) Pilihlah obat yang sesuai dengan gejala penyakit dan tidak ada interaksi obat dengan obat yang sedang diminum.</p>
<p style="text-align:justify;">f) Untuk pemilihan obat yang tepat dan informasi yang lengkap, tanyakan kepada Apoteker.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara Penggunaan Obat</p>
<p style="text-align:justify;">a) Penggunaan obat tidak untuk pemakaian secara terus menerus.</p>
<p style="text-align:justify;">b) Gunakan obat sesuai dengan anjuran yang tertera pada etiket atau brosur.</p>
<p style="text-align:justify;">c) Bila obat yang digunakan menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, hentikan penggunaan dan tanyakan kepada Apoteker dan dokter.</p>
<p style="text-align:justify;">d) Hindarkan menggunakan obat orang lain walaupun gejala penyakit sama.</p>
<p style="text-align:justify;">e) Untuk mendapatkan informasi penggunaan obat yang lebih lengkap, tanyakan kepada Apoteker.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara Pemakaian Obat Yang Tepat<br />
Obat digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan, pada saat yang tepat dan dalam jangka waktu terapi sesuai dengan anjuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Oral (pemberian obat melalui mulut)</p>
<p style="text-align:justify;">• Adalah cara yang paling lazim, karena sangat praktis, mudah dan aman. Yang terbaik adalah minum obat dengan segelas air.</p>
<p style="text-align:justify;">• Ikuti petunjuk dari profesi pelayan kesehatan (saat makan atau saat perut kosong)</p>
<p style="text-align:justify;">• Obat untuk kerja diperlama (long acting) harus ditelan seluruhnya. Tidak boleh dipecah atau dikunyah</p>
<p style="text-align:justify;">• Sediaan cair, gunakan sendok obat atau alat lain yang telah diberi ukuran untuk ketepatan dosis. Jangan gunakan sendok rumah tangga.</p>
<p style="text-align:justify;">• Jika penderita sulit menelan sediaan obat yang dianjurkan oleh dokter minta pilihan bentuk sediaan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian obat oral untuk bayi/anak balita :</p>
<p style="text-align:justify;">• Sediaan cair untuk bayi dan balita harus jelas dosisnya, gunakan sendok takar dalam kemasan obatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">• Segera berikan minuman yang disukai anak setelah pemberian obat yang terasa tidak enak/pahit,</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Mata</p>
<p style="text-align:justify;">• Ujung alat penetes jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata) dan</p>
<p style="text-align:justify;">• selalu ditutup rapat setelah digunakan.</p>
<p style="text-align:justify;">• Untuk glaukoma atau inflamasi, petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan harus diikuti dengan benar.</p>
<p style="text-align:justify;">• Cara penggunaan adalah cuci tangan, kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka  kantung konjungtiva, obat diteteskan pada kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit, jangan mengedip.</p>
<p style="text-align:justify;">• Ujung mata dekat hidung ditekan selama 1-2 menit</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan dicuci untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Salep Mata</p>
<p style="text-align:justify;">• Ujung tube salep jangan tersentuh oleh benda apapun (termasuk mata).</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan, kepala ditengadahkan, dengan jari telunjuk kelopak mata bagian bawah ditarik ke bawah untuk membuka kantung konjungtiva, tube salep mata ditekan hingga salep masuk dalam kantung konjungtiva dan mata ditutup selama 1-2 menit. Mata digerakkan ke kiri-kanan, atas-bawah.</p>
<p style="text-align:justify;">• Setelah digunakan, ujung kemasan salep diusap dengan tissue bersih (jangan dicuci dengan air hangat) dan wadah salep ditutup rapat.</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan untuk menghilangkan obat yang mungkin terpapar pada tangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Hidung</p>
<p style="text-align:justify;">• Hidung dibersihkan dan kepala ditengadahkan bila penggunaan obat dilakukan sambil berdiri dan duduk atau penderita cukup berbaring saja.</p>
<p style="text-align:justify;">• Kemudian teteskan obat pada lubang hidung dan biarkan selama beberapa menit agar obat dapat tersebar di dalam hidung</p>
<p style="text-align:justify;">• Untuk posisi duduk, kepala ditarik dan ditempatkan diantara dua paha Setelah digunakan, alat penetes dibersihkan dengan air panas dan keringkan dengan tissue bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Semprot Hidung</p>
<p style="text-align:justify;">• Hidung dibersihkan dan kepala tetap tegak. Kemudian obat disemprotkan ke dalam lubang hidung sambil menarik napas dengan cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">• Untuk posisi duduk, kepala ditarik dan ditempatkan diantara dua paha</p>
<p style="text-align:justify;">• Setelah digunakan, botol alat semprot dicuci dengan air hangat tetapi jangan sampai air masuk ke dalam botol kemudian dikeringkan dengan tissue bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Tetes Telinga</p>
<p style="text-align:justify;">• Ujung alat penetes jangan menyentuh benda apapun termasuk telinga</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan sebelum menggunakan obat tetes telinga<img class="alignright size-medium wp-image-289" title="Kapsul" src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/kapsul.jpg?w=300&#038;h=286" alt="Kapsul" width="300" height="286" /></p>
<p style="text-align:justify;">• Bersihkan bagian luar telinga dengan &#8220;cotton bud&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">• Jika sediaan berupa suspensi, sediaan harus dikocok terlebih dahulu</p>
<p style="text-align:justify;">• Cara penggunaan adalah penderita berbaring miring dengan telinga yang akan ditetesi obat menghadap ke atas. Untuk membuat lubang telinga lurus sehingga mudah ditetesi maka bagi penderita dewasa telinga ditarik ke atas dan ke belakang, sedangkan bagi anak-anak telinga ditarik ke bawah dan ke belakang. Kemudian obat diteteskan dan biarkan selama 5 menit</p>
<p style="text-align:justify;">• Bersihkan ujung penetes dengan tissue bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Supositoria</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan, suppositoria dikeluarkan dari kemasan, suppositoria dibasahi dengan air.</p>
<p style="text-align:justify;">• Penderita berbaring dengan posisi miring dan suppositoria dimasukkan ke dalam rektum.</p>
<p style="text-align:justify;">• Masukan supositoria dengan cara bagian ujung supositoria didorong dengan ujung jari sampai melewati otot sfingter rektal; kira-kira ½ &#8211; 1 inchi pada bayi dan 1 inchi pada dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">• Jika suppositoria terlalu lembek untuk dapat dimasukkan, maka sebelum digunakan sediaan ditempatkan dalam lemari pendingin selama 30 menit kemudian tempatkan pada air mengalir sebelum kemasan dibuka</p>
<p style="text-align:justify;">• Setelah penggunaan suppositoria, tangan penderita dicuci bersih.</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Krim/Salep rektal</p>
<p style="text-align:justify;">• Bersihkan dan keringkan daerah rektal, kemudian masukkan salep atau krim secara perlahan ke dalam rektal.</p>
<p style="text-align:justify;">• Cara lain adalah dengan menggunakan aplikator. Caranya adalah aplikator dihubungkan dengan wadah salep/krim yang sudah dibuka, kemudian dimasukkan ke dalam rektum dan sediaan ditekan sehingga salep/krim keluar.</p>
<p style="text-align:justify;">• Buka aplikator dan cuci bersih dengan air hangat dan sabun.</p>
<p style="text-align:justify;">• Setelah penggunaan, tangan penderita dicuci bersih</p>
<p style="text-align:justify;">Petunjuk Pemakaian Obat Vagina</p>
<p style="text-align:justify;">• Cuci tangan sebelum menggunakan obat dan gunakan aplikator sesuai dengan petunjuk penggunaan dari industri penghasil sediaan.</p>
<p style="text-align:justify;">• Jika penderita hamil, maka sebelum menggunakan obat sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan profesional perawatan kesehatan.</p>
<p style="text-align:justify;">• Penderita berbaring dengan kedua kaki direnggangkan dan dengan menggunakan aplikator obat dimasukkan ke dalam vagina sejauh mungkin tanpa dipaksakan dan biarkan selama beberapa waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">• Setelah penggunaan, aplikator dan tangan penderita dicuci bersih dengan sabun dan air hangat.</p>
<p style="text-align:justify;">Efek Samping</p>
<p style="text-align:justify;">Efek samping obat adalah setiap respons obat yang merugikan dan tidak diharapkan yang terjadi karena penggunaan obat dengan dosis atau takaran normal pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan terapi.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang perlu diketahui tentang efek samping adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">• Baca dengan seksama kemasan atau brosur obat, efek samping yang mungkin timbul.</p>
<p style="text-align:justify;">• Untuk mendapatkan informasi tentang efek samping yang lebih lengkap dan apa yang harus dilakukan bila mengalaminya, tanyakan pada Apoteker.</p>
<p style="text-align:justify;">• Efek samping yang mungkin timbul antara lain reaksi alergi gatal-gatal, ruam, mengantuk, mual dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">• Penggunaan obat pada kondisi tertentu seperti pada ibu hamil, menyusui, lanjut usia, gagal ginjal dan lain-lain dapat menimbulkan efek samping yang fatal, penggunaan obat harus di bawah pengawasan dokter &#8211; Apoteker.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara Penyimpanan Obat</p>
<p style="text-align:justify;">1. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat. Simpan obat pada suhu kamar dan terhindar dari sinar matahari langsung atau seperti yang tertera pada kemasan.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Simpan obat ditempat yang tidak panas atau tidak lembab karena dapat menimbulkan kerusakan.</p>
<p style="text-align:justify;">3. Jangan menyimpan obat bentuk cair dalam lemari pendingin agar tidak beku, kecuali jika tertulis pada etiket obat.</p>
<p style="text-align:justify;">4. Jangan menyimpan obat yang telah kadaluarsa atau rusak.</p>
<p style="text-align:justify;">5. Jauhkan dari jangkauan anak-anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal Kadaluarsa</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal kadaluarsa menunjukkan bahwa sampai dengan tanggal yang dimaksud, mutu dan kemurnian obat dijamin masih tetap memenuhi syarat.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanggal kadaluarsa biasanya dinyatakan dalam bulan dan tahun. Obat rusak merupakan obat yang mengalami perubahan mutu, seperti :</p>
<p style="text-align:justify;">1. Tablet</p>
<p style="text-align:justify;">- Terjadinya perubahan warna, bau atau rasa</p>
<p style="text-align:justify;">- Kerusakan berupa noda, berbintik-bintik, lubang, sumbing, pecah, retak dan atau terdapat benda asing, jadi bubuk dan lembab</p>
<p style="text-align:justify;">- Kaleng atau botol rusak</p>
<p style="text-align:justify;">2. Tablet salut</p>
<p style="text-align:justify;">- Pecah-pecah, terjadi perubahan warna</p>
<p style="text-align:justify;">- Basah dan lengket satu dengan lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">- Kaleng atau botol rusak sehingga menimbulkan kelainan fisik</p>
<p style="text-align:justify;">3. Kapsul</p>
<p style="text-align:justify;">- Perubahan warna isi kapsul</p>
<p style="text-align:justify;">- Kapsul terbuka, kosong, rusak atau melekat satu sama lain</p>
<p style="text-align:justify;">4. Cairan</p>
<p style="text-align:justify;">- Menjadi keruh atau timbul endapan</p>
<p style="text-align:justify;">- Konsistensi berubah</p>
<p style="text-align:justify;">- Warna atau rasa berubah</p>
<p style="text-align:justify;">- Botol plastik rusak atau bocor</p>
<p style="text-align:justify;">5. Salep</p>
<p style="text-align:justify;">- Warna berubah</p>
<p style="text-align:justify;">- Pot atau tube rusak atau bocor</p>
<p style="text-align:justify;">- Bau berubah</p>
<p style="text-align:justify;">Dosis</p>
<p style="text-align:justify;">Dosis merupakan aturan pemakaian yang menunjukkan jumlah gram atau volume dan frekuensi pemberian obat untuk dicatat sesuai dengan umur</p>
<p style="text-align:justify;">dan berat badan pasien.</p>
<p style="text-align:justify;">- Gunakan obat tepat waktu sesuai aturan pemakaian.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh :</p>
<p style="text-align:justify;">• Tiga kali sehari berarti obat diminum setiap 8 jam sekali</p>
<p style="text-align:justify;">• Obat diminum sebelum atau sesudah makan</p>
<p style="text-align:justify;">• Jika menggunakan obat-obat bebas, ikuti petunjuk pada kemasan atau brosur/leaflet</p>
<p style="text-align:justify;">- Bila terlupa minum obat :</p>
<p style="text-align:justify;">• Minumlah dosis yang terlupa segera setelah ingat, tetapi jika hamper mendekati dosis berikutnya, maka abaikan dosis yang terlupa dan kembali ke jadwal selanjutnya sesuai aturan.</p>
<p style="text-align:justify;">• Jangan menggunakan dua dosis sekaligus atau dalam waktu yang berdekatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal yang harus Diperhatikan</p>
<p style="text-align:justify;">1. Kemasan/wadah</p>
<p style="text-align:justify;">Harus tersegel dengan baik, tidak rusak, tidak berlubang, tanggal kadaluarsa jelas terbaca.</p>
<p style="text-align:justify;">2. Penandaan pada wadah</p>
<p style="text-align:justify;">- Baca zat berkhasiat dan manfaatnya</p>
<p style="text-align:justify;">- Baca aturan pakainya, misalnya sebelum atau sesudah makan</p>
<p style="text-align:justify;">- Untuk pencegahan overdosis, jangan minum obat 2 kali dosis bila sebelumnya lupa minum obat</p>
<p style="text-align:justify;">- Baca kontraindikasinya</p>
<p style="text-align:justify;">Misalnya:</p>
<p style="text-align:justify;">- tidak boleh diminum oleh ibu hamil/menyusui</p>
<p style="text-align:justify;">- tidak boleh diminum oleh penderita gagal ginjal</p>
<p style="text-align:justify;">- Baca efek samping yang mungkin timbul</p>
<p style="text-align:justify;">- Baca cara penyimpanannya</p>
<p style="text-align:justify;">3. Bila ragu tanyakan pada Apoteker</p>
<p style="text-align:justify;">4. Bila sakit berlanjut hubungi dokter</p>
<p style="text-align:justify;">Sumber  : ISFI Online</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=116&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/10/22/obat-bebas-dan-obat-terbatas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obatbebas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">obat+bebas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/obat.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">obat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/10/kapsul.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Kapsul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Petunjuk Penggunaan Obat</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/petunjuk-penggunaan-obat/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/petunjuk-penggunaan-obat/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 06:38:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petunjuk Penggunaan Obat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[Langkah 4 dan 5 I. OBAT TETES MATA Cuci tangan Jangan menyentuh lubang penetes Tengadahkan kepala Tarik kelopak mata bawah ke bawah agar terbentuk semacam cekungan Dekatkan alat penetes sedekat mungkin ke cekungan tanpa menyentuhnya atau menyentuh mata Teteskan obat sebanyak yang dianjurkan ke dalam cekungan Pejamkan mata selama kira-kira 2 menit, jangan memejamkannya terlalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=83&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp" style="text-align:justify;">
<dl class="wp-caption alignright">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://sridana.files.wordpress.com/2008/08/gbr-11.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-93   " src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/08/gbr-11.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a></dt>
<dd class="wp-caption-dd">Langkah 4 dan 5</dd>
</dl>
</div>
<p style="text-align:justify;">I. OBAT TETES MATA</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cuci tangan</li>
<li> Jangan menyentuh lubang penetes</li>
<li> Tengadahkan kepala</li>
<li> Tarik kelopak mata bawah ke bawah agar terbentuk semacam cekungan</li>
<li> Dekatkan alat penetes sedekat mungkin ke cekungan tanpa menyentuhnya atau menyentuh mata</li>
<li> Teteskan obat sebanyak yang dianjurkan ke dalam cekungan</li>
<li> Pejamkan mata selama kira-kira 2 menit, jangan memejamkannya terlalu kuat</li>
<li> Bersihkan kelebihan cairan dengan kertas tisu</li>
<li> Jika menggunakan lebih dari satu jenis obat tetes mata, tunggu sedikitnya 5 menit sebelum meneteskan obat tetes berikutnya</li>
<li> Obat tetes mata mungkin menimbulkan rasa terbakar, tetapi ini hanya akan berlangsung beberapa menit, Jika terasa lebih lama bertanyalah ke dokter atau apoteker.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">II. OBAT TETES MATA PADA ANAK</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Baringkan anak terlentang dengan kepala lurus</li>
<li> Mintalah si anak memejamkan matanya</li>
<li> Teteskan sejumlah yang dianjurkan ke sudut mata</li>
<li> Jaga agar kepala tetap lurus</li>
<li> Bersihkan cairan yang berlebihan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">III. SALEP MATA</p>
<p><span id="more-83"></span></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cuci tangan</li>
<li> Jagalah agar ujung tube salep mata tidak menyentuh apapun</li>
<li> Tengadahkan kepala sedikit</li>
<li> Pegang tube dengan satu tangan dan tarik kelopak mata bawah ke bawah dengan tangan yang lain untuk membentuk cekungan</li>
<li> Bubuhkan salep sejumlah yang dianjurkan</li>
<li> Pejamkan mata selama 2 menit</li>
<li> Seka sisa salep dengan kertas tisu</li>
<li> Bersihkan ujung tube dengan tisu lain.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">IV. OBAT TETES TELINGA</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Hangatkan obat tetes telinga dengan menggenggamnya atau mengempitnya di ketiak selama beberapa menit. Jangan gunakan air panas dari kran karena suhunya sukar dikendalikan</li>
<li> Miringkan kepala ke satu sisi atau berbaringlah miring, telinga yang akan diobati harus berada di sebelah atas</li>
<li> Tarik daun telinga perlahan untuk membuka liang telinga</li>
<li> Teteskan obat sejumlah yang dianjurkan</li>
<li> Tunggu 5 menit sebelum beralih ke telinga lainnya</li>
<li> Gunakan kapas untuk menutup liang telinga setelah ditetesi obat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">V. OBAT TETES HIDUNG</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Bersihkan hidung</li>
<li> Duduk dan tengadahkan kepala atau berbaringlah dengan bantal di bawah bahu, usahakan agar kepala tetap lurus</li>
<li> Masukan alat penetes sejauh 1 cm ke dalam lubang hidung</li>
<li> Teteskan obat sejumlah yang dianjurkan</li>
<li> Segera tundukan kepala serendah mungkin (letakkan kepala diantara lutut)</li>
<li> Setelah beberapa detik , duduk tegak, cairan akan menetes ke dalam kerongkongan</li>
<li> Ulangi langkah-langkah ini untuk lubang hidung sebelahnya, jika perlu</li>
<li> Bersihkan alat penetes dengan air matang.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">VI. OBAT SEMPROT HIDUNG</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Bersihkan hidung</li>
<li> Duduk dan tundukkan kepala sedikit</li>
<li> Kocok wadah obat semprot</li>
<li> Masukan ujung penyemprot ke dalam satu lubang hidung</li>
<li> Tutup mulut dan lubang hidung sebelahnya</li>
<li> Semprotkan obat dengan memencet vial (wadah, tabung) dan hirup perlahan-lahan</li>
<li> Keluarkan ujung penyemprot dari hidung dan tundukan kepala serendah mungkin (letakan kepala diantara kedua lutut)</li>
<li> Sesudah beberapa detik , duduk tegak, obat akan mengalir ke dalam kerongkongan</li>
<li> Bernafaslah melalui mulut</li>
<li> Ulangi langkah-langkah ini untuk lubang hidung sebelahnya, jika perlu</li>
<li> Bersihkan ujung penyemprot dengan air matang</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">VII. OBAT TAPEL KULIT</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Untuk mengetahui tempat menempelkan tapel, lihat aturan yang terdapat pada kemasan obat atau tanyakan kepada apoteker</li>
<li> Jangan menempelkannya di atas kulit yang lecet atau cedera</li>
<li> Jangan gunakan di lipatan kulit atau di bawah pakaian yang ketat, dan ganti obat secara teratur</li>
<li> Tempelkan dengan tangan yang bersih dan kering</li>
<li> Bersihkan dan keringkan dengan cermat daerah yang akan ditempeli obat</li>
<li> Keluarkan tapel dari bungkusnya, jangan menyentuh sisi yang mengandung obat</li>
<li> Letakkan pada kulit dan tekan kuat-kuat, gosok bagian tepi agar tapel merekat dengan baik</li>
<li> Lepaskan dan ganti obat sesuai dengan petunjuk</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">VIII. AEROSOL</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Batukkan dahak sebanyak mungkin</li>
<li> Kocok botol aerosol sebelum digunakan</li>
<li> Pegang botol aerosol seperti yang tercantum dalam petunjuknya (biasanya dalam posisi terbalik)</li>
<li> Katupkan bibir rapat-rapat pada mulut aerosol</li>
<li> Tengadahkan kepala sedikit</li>
<li> Buang nafas perlahan-lahan, hembuskan udara paru-paru sebanyak mungkin</li>
<li> Tarik napas dalam-dalam dan tekan aerosol, usahakan agar lidah tetap di bawah</li>
<li> Tahan nafas selama 10-15 detik</li>
<li> Hembuskan nafas melalui hidung</li>
<li> Bersihkan mulut aerosol dengan air hangat.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">IX. INHALER DENGAN KAPSUL</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Batukkan dahak sebanyak mungkin</li>
<li> Tempatkan kapsul obat pada inhaler sesuai dengan petunjuk produsennya</li>
<li> Buang nafas perlahan-lahan, hembuskan udara paru-paru sebanyak mungkin</li>
<li> Katupkan bibir rapat-rapat pada ujung inhaler</li>
<li> Tengadahkan kepala sedikit</li>
<li> Tarik nafas panjang melalui inhaler</li>
<li> Tahan nafas selama 10-15 detik</li>
<li> Buang nafas melalui hidung</li>
<li> Bersihkan ujung inhaler dengan air hangat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">X. SUPOSITORIA</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cucilah tangan</li>
<li> Buka kemasan obat (kecuali bila terlalu lunak)</li>
<li> Jika supositoria terlalu lunak, keraskan dulu dengan cara mendinginkannya (simpan di lemari pendingin atau aliri air kran dingin, berikut kemasannya), baru kemudian buka kemasannya</li>
<li> Hilangkan bagian-bagian pinggir yang mungkin tajam dengan menghangatkannya dalam genggaman</li>
<li> Basahi obat dengan air dingin</li>
<li> Berbaring miring pada satu sisi dan tekuk lutut</li>
<li> Secara perlahan-lahan masukan supositoria, dengan ujung yang membulat terlebih dahulu sampai seluruh obat masuk</li>
<li> Tetaplah berbaring selama beberapa menit</li>
<li> Cucilah tangan</li>
<li> Usahakan agar tidak buang air besar selama 1 jam setelah pemberian obat</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">XI. TABLET VAGINA DENGAN APLIKATOR</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cuci tangan</li>
<li> Buka pembungkus tablet</li>
<li> Letakkan tablet di ujung aplikator yang terbuka</li>
<li> Berbaring terlentang, tekuk lutut sedikit dan mengankang</li>
<li> Perlahan-lahan masukan aplikator ke dalam vagina sejauh  mungkin tabletnya di bagaian depan, jangan mendorong dengan paksa</li>
<li> Tekan alat pendorong sehingga tablet lepas</li>
<li> Keluarkan aplikator</li>
<li> Buang aplikator (untuk kemasan sekali pakai)</li>
<li> Bersihkan dengan cermat kedua bagian aplikator dengan sabun dan air matang yang hangat-hangat kuku (juka bukan kemasan sekali pakai)</li>
<li> Cuci tangan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">XII. TABLET VAGINA TANPA APLIKATOR</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cuci tangan</li>
<li> Buka kemasan tablet</li>
<li> Celupkan tablet ke dalam air hangat-hangat kuku, sekadar untuk membasahkannya</li>
<li> Berbaring terlentang, tekuk lutut dan mengangkang</li>
<li> Perlahan-lahan masukkan tablet ke dalam vagina sejauh mungkin, jangan dipaksa</li>
<li> Cuci tangan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">XIII. KRIM, SALEP DAN GEL VAGINA (kebanyakan obat-obat ini dilengkapi aplikator)</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Cuci tangan</li>
<li> Buka tutup kemasan dari wadah obat</li>
<li> Pasang aplikator pada wadah</li>
<li> Tekan wadah sampai sejauh obat yang dianjurkan masuk ke dalam aplikator</li>
<li> Lepaskan aplikator dari wadah obat (pegang pipanya)</li>
<li> Bubuhkan sedikit krim di bagian luar aplikator</li>
<li> Berbaring terlentang, tekuk lutut dan mengangkang</li>
<li> Perlahan-lahan masukkan aplikator ke dalam vagina sejauh mungkin, jangan dipaksa</li>
<li> Pegang pipa aplikator dan dengan tangan yang lain tekan alat pendorong untuk memasukkan obat ke dalam vagina</li>
<li> Keluarkan aplikator dari vagina</li>
<li> Buang aplikator untuk kemasan sekali pakai, atau bersihkan dengan air matang jika bukan kemasan sekali pakai</li>
<li> Cuci tangan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">(Sumber : Pedoman Penulisan Resep, ITB 1998).</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sridana.wordpress.com/83/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sridana.wordpress.com/83/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=83&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/petunjuk-penggunaan-obat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/08/gbr-11.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Diuretika</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/diuretika/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/diuretika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Aug 2008 03:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diuretik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=78&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Diuretik adalah obat yang dapat menambah kecepatan pembentukan urin<br />
Fungsi utama diuretik adalah untuk memobilisasi cairan udem yang berarti mengubah keseimbangan cairan sedemikian rupa sehingga volume cairan ekstrasel menjadi normal.<br />
Obat-obat diuretik :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Inhibitor karbonik anhidrase (asetazolamid).</li>
<li>Loop diuretik (furosemid, as etakrinat, torsemid, bumetanid)</li>
<li>Tiazid (klorotiazid, hidroklorotiazid, klortalidon)</li>
<li>Hemat kalium (amilorid, spironolakton, triamteren)</li>
<li>Osmotik (manitol, urea)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Inhibitor karbonik anhidrase</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mekanisme kerja : menghambat karbonik anhidrase yang terletak di dalam sel dan membran apikal epitel tubulus proksimal.<br />
Farmakokinetik : asetazolamid diberikan peroral<br />
Efek samping : asidosis metabolik, penurunan kalium, pembentukan batu ginjal, parestesia<br />
Penggunaan dalam terapi : pengobatan glaukoma, epilepsi, mountain sickness</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. Loop Diuretik</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Mekanisme kerja : menghambat kotranspor Na+/K+/Cl- dari membran lumen pada pars ascenden ansa henle, karena itu reabsorpsi Na+/K+/Cl- menurun<br />
Farmakokinetik : diuretik loop diberikan per oral atau parenteral.<br />
Efek samping <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_surprised.gif' alt=':o' class='wp-smiley' /> totoksisitas, hiperurisemia, hipovolemia akut, kekurangan kalium</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. Tiazid</strong></p>
<p><span id="more-78"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Obat diuretik yang paling banyak digunakan.<br />
Mekanisme kerja : bekerja pada tubulus distal untuk menurunkan reabsorpsi Na+ dengan menghambat kotransporter Na+/Cl- pada membran lumen.<br />
Farmakokinetik : efektif peroral, ekskresi oleh ginjal.<br />
Efek samping : kehilangan kalium, hiperurisemia, hipotensi ortostatik, hiperkalsemia, hiperglikemia, hipersensitivitas<br />
Penggunaan dalam terapi : hipertensi, gagal jantung kongestif, kerusakan ginjal, hiperkalsiuria, diabetes insipidus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. Hemat kalium</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Yang termasuk gol ini adalah : antagonis aldosteron (spironolakton), triamteren, amilorid.<br />
Aldosteron berperan dalam memperbesar reabsorpsi natrium dan klorida serta memperbesar ekskresi kalium.<br />
Bekerja di tubulus renalis rektus untuk menghambat reabsorpsi Na+, sekresi K+ dan sekresi H+.<br />
Mekanisme kerja : penghambatan kompetitif terhadap aldosteron<br />
Indikasi : udema dan hipertensi<br />
Efek samping : hiperkalemia, ginekomastia, gejala saluran cerna<br />
Sediaan : spironolakton tablet 25, 50, 100 mg, triamteren kapsul 100 mg, amilorid tablet 5 mg.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>5. Diuretik osmotik</strong><br />
Manitol tidak diabsorpsi bila diberikan secara per oral, hanya diberikan secara IV<br />
Digunakan untuk meningkatkan ekskresi air<br />
Digunakan untuk pengobatan tekanan intra kranial, gagal ginjal akut, keracunan obat.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sridana.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sridana.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=78&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/08/19/diuretika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antibiotika</title>
		<link>http://sridana.wordpress.com/2008/08/18/antibiotika/</link>
		<comments>http://sridana.wordpress.com/2008/08/18/antibiotika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Aug 2008 07:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Antibiotika]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sridana.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, termasuk turunan senyawa dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=51&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-281" title="antibiotika" src="http://sridana.files.wordpress.com/2008/08/antibiotika.jpg?w=293&#038;h=286" alt="antibiotika" width="293" height="286" />Adalah senyawa kimia khas yang dihasilkan oleh mikroorganisme hidup, termasuk turunan senyawa dan struktur analognya yang dibuat secara sintetik dan dalam kadar rendah mampu menghambat proses penting dalam kehidupan satu spesies atau lebih mikroorganisme<br />
Antibiotika harus memiliki toksisitas selektif : Sifat toksisitas selektif : membunuh mikroorganisme yang menginvasi host tanpa merusak sel host.<br />
Toksisitas Antibiotik lebih bersifat relatif daripada absolut : perlu kontrol konsentrasi obat secara hati-hati sehingga dapat ditolerir tubuh.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penggolongan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">1. Berdasarkan daya kerja : bakterisid (pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman, Contoh : pensisilin, sefalosporin, dll), bakteriostatik (pada dosis biasa berkhasiat menghentikan/menghambat pertumbuhan kuman, contoh : sulfonamida, kloramfenikol)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Berdasarkan struktur kimia : beta laktam (penisilin, sefalosporin), aminoglikosida, kloramfenikol, tetrasiklin, rifampisin, makrolida, polien, antibiotika lain</p>
<p style="text-align:justify;">3. Berdasarkan Mekanisme kerja</p>
<p><span id="more-51"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Menghambat sintesis dinding sel ataumengaktivasi enzim yang merusak dinding sel mikroba shg menghilangkan kemampuan untuk berkembang biak, lisis (penisilin, sefalosporin, sikloserin, basitrasin)</p>
<p style="text-align:justify;">Antibiotika yang bekerja langsung thd membran sel, mempengaruhi permeabilitas sehingga menimbulkan kebocoran dan menghilangkan senyawa intraseluler (polimiksin, nistatin, amfoterisin)</p>
<p style="text-align:justify;">Antibiotika yang mengganggu fungsi ribosom bakteri, menyebabkan inhibisi sintesis protein (kloramfenikol, tetrasiklin, eritromisin, dll)</p>
<p style="text-align:justify;">Antibiotika yang mengganggu pembentukan asam-asam inti (DNA,RNA) : rifampisin, kuinolon<br />
Antagonisme saingan yaitu menyaingi zat-zat yang penting untuk metabolisme bakteri (sulfonamid, trimetoprim)</p>
<p style="text-align:justify;">4. Berdasarkan sasaran kerja</p>
<p style="text-align:justify;">Zat dengan aktivitas sempit (narrow spektrum) terutama aktif untuk beberapa jenis bakteri saja. Aktif untuk bakteri gram positif (penisilin G, V, kanamisin, eritromisin). Aktif untuk bakteri gram negatif (streptomisin, gentamisin, dll)</p>
<p style="text-align:justify;">Zat dengan aktivitas luas (broad spektrum) baik gram positif maupun gram negatif (penisilin, sefalosporin, dll)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Seleksi Obat Antimikroba</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dasar pertimbangan (ideal) :<br />
Identifikasi &amp; sensitivitas organisme,<br />
Tempat infeksi,<br />
Status pasien (umur, BB, keadaan patologis, kehamilan &amp; laktasi),<br />
Keamanan antibiotik,<br />
Biaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam prakteknya :<br />
Terapi empirik sebelum identifikasi organisme.<br />
Berdasar bukti-bukti ilmiah &amp; pengalaman, dengan mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid, memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan frekuensi pemberian rendah (drug compliance), mengutamakan obat dengan pengikatan protein rendah, tidak merutinkan penggunaan antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila dijumpai resistensi)</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberian AB :<br />
Dosis : kadar obat di tempat infeksi harus melampaui MIC kuman. Untuk mencapai kadar puncak obat dlm darah, kalau perlu dengan loading dose (ganda) dan dimulai dengan injeksi kemudian diteruskan obat oral.<br />
Frekuensi pemberian : tergantung waktu paruh (t&amp;frac12  obat. Bila t½ pendek, maka frekuensi pemberiannya sering.<br />
Lama terapi : harus cukup panjang untuk menjamin semua kuman telah mati &amp; menghindari kekambuhan. Lazimnya terapi diteruskan 2-3 hari setelah gejala penyakit lenyap.</p>
<p style="text-align:justify;">Bakteriostatika :<br />
Menahan pertumbuhan &amp; replikasi bakteri pada kadar serum yang dapat dicapai tubuh pasien.<br />
Membatasi penyebaran infeksi saat sistem imun tubuh bekerja memobilisasi &amp; mengeliminasi bakteri patogen.<br />
Misalnya : Sulfonamid, Kloramfenikol, Tetrasiklin, Makrolid, Linkomisin.</p>
<p style="text-align:justify;">Bakterisid :<br />
Membunuh bakteri serta jumlah total organisme yang dapat hidup &amp; diturunkan.<br />
Pembagian : a) Bekerja pd fase tumbuh kuman, misalnya : Penisilin, Sefalosporin, Kuinolon, Rifampisin, Polipeptida. b) Bekerja pada fase istirahat, misalnya : Aminoglikosid, INH, Kotrimoksazol, Polipeptida.</p>
<p style="text-align:justify;">Spektrum Antimikroba<br />
Spektrum Sempit : bekerja hanya pada mikroorganisme tunggal / grup tertentu. Misalnya, Isoniazid untuk mikobakteria.<br />
Spektrum Sedang : efektif melawan organisme Gram (+) &amp; beberapa bakteri Gram (-). Misalnya, Ampisilin.<br />
Spektrum Luas : mempengaruhi spesies mikroba secara luas. Misalnya, Kloramfenikol &amp; Tetrasiklin.</p>
<p style="text-align:justify;">Kombinasi Obat-Obat Antimikroba</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberian AB tunggal lebih dianjurkan untuk :<br />
Organisme penyebab infeksi spesifik.<br />
Menurunkan kemungkinan superinfeksi.<br />
Menurunkan resistensi organisme.<br />
Mengurangi toksisitas</p>
<p style="text-align:justify;">Pemberian Antibiotik kombinasi untuk keadaan khusus :<br />
Infeksi campuran.<br />
Ada risiko resistensi organisme, misalnya pada TBC.<br />
Keadaan yang membutuhkan AB dengan dosis besar, misalnya sepsis, dan etiologi infeksi yang belum diketahui.</p>
<p style="text-align:justify;">Keuntungan Pemberian Antibiotik kombinasi :<br />
Efek sinergistik / potensiasi, misalnya : a) Betalaktam + Aminoglikosid; b) Kotrimoksazol (Sulfametoksazol + Trimetoprim); c) MDT pada AIDS (AZT + Ritonavir + 3TC).<br />
Mengatasi &amp; mengurangi resistensi, misalnya : a) Amoksisilin + Asam klavulanat; b) Obat-obat TBC &amp; lepra; c) MDT pada AIDS.<br />
Mengurangi toksisitas, misalnya : Trisulfa + sitostatika.</p>
<p style="text-align:justify;">Kerugian Pemberian Antibiotik kombinasi :<br />
Antagonisme pada penggunaan bakteriostatika &amp; bakterisid yang bekerja pada fase tumbuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Resistensi Obat</p>
<p style="text-align:justify;">Definisi “resisten” :<br />
Bila pertumbuhan bakteri tidak dapat dihambat oleh antibiotik pada kadar maksimal yang dapat ditolerir host.</p>
<p style="text-align:justify;">Penyebab resistensi :<br />
Perubahan genetik,<br />
Mutasi spontan DNA,<br />
Transfer DNA antar organisme (konjugasi, transduksi, transformasi),<br />
Induksi antibiotik.</p>
<p style="text-align:justify;">Perubahan ekspresi protein pada organisme yang resisten :<br />
Modifikasi tempat target,<br />
Menurunnya daya penetrasi obat (adanya lapisan polisakarida, adanya sistem efluks),<br />
Inaktivasi oleh enzim.</p>
<p style="text-align:justify;">Antibiotika Profilaktik<br />
Pemberian antibiotik untuk pencegahan infeksi, bukan untuk pengobatan infeksi.<br />
Lama pemberian ditentukan oleh lamanya risiko infeksi.<br />
Dapat timbul resistensi bakteri &amp; superinfeksi.</p>
<p style="text-align:justify;">Komplikasi Terapi AB<br />
Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal) hingga syok anafilaktik.<br />
Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian Aminoglikosid  berupa ototoksisitas.<br />
Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan perubahan flora normal tubuh sehingga  pertumbuhan organisme lain seperti jamur menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.</p>
<p style="text-align:justify;">(Diambil dari berbagai sumber)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sridana.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sridana.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sridana.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sridana.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sridana.wordpress.com&amp;blog=3875622&amp;post=51&amp;subd=sridana&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sridana.wordpress.com/2008/08/18/antibiotika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/3ef0f06a9bd5179ff6452ad35f6bb173?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dana</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sridana.files.wordpress.com/2008/08/antibiotika.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">antibiotika</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
